Dari sebuah cerita masa kecil seorang sahabat.
Seorang anak kecil, mungil, dengan mata bulat yang berbinar-binar tampak percaya diri ketika namanya dipanggil. Dengan langkah kecilnya yang riang dia naik ke panggung, kemudian dia menyapa para penonton. Diiringi sebuah senyum kecil, dia mulai menyanyikan sebuah lagu. Keceriaannya dalam membawakan lagu membuat para penonton dan para juri terhanyut, seolah-olah mereka dibawa ke sebuah dunia, sebuah dunia penuh warna, penuh keceriaan, khas anak-anak.
Diakhir acara, para juri memberikan nilai tertingginya kepada anak itu. Sebuah keputusan yang tidak mengejutkan bagi mereka yang hadir di sana. Dengan penuh suka cita anak kecil itu kembali naik ke panggung, menerima sebuah piala, sebuah tanda kemenangan bagi sebagian orang, namun si anak kecil itu menganggapnya lebih dari sebuah tanda kemenangan. Baginya, itulah tanda jerih payah kerja kerasnya ini diakui, sebuah bentuk apresiasi terhadap bakat dan kerja keras.
Keesokan harinya, si anak kecil itu masuk ke sekolah dengan muka berseri-seri, penuh semangat, pengaruh sebuah euphoria kemenangannya kemarin. Setiba di sekolah, dia dipanggil oleh kepala sekolah. Di puji-pujilah dia oleh si kepala sekolah. Hingga tiba ke sebuah percakapan, mengenai piala. Si kepala sekolah meminta agar piala itu disimpan di sekolah, sebuah kata halus dari meminta anak itu menyerahkan pialanya secara suka rela. Dengan lantang si anak menolak mentah-mentah permintaan si kepala sekolah. Terjadilah perdebatan seru, seorang murid dengan kepala sekolahnya, yang pantas menjadi kakeknya.
"Nak, kenapa sih kamu tidak mau memberikan piala itu ke sekolah?", kata si kepala sekolah, mencoba untuk sabar. "Toh kalau di rumah mau buat apa?"
"Buat dipajang", jawab si anak singkat.
"Kalau buat dipajang, kenapa kamu tidak bikin replikanya saja, terus yang aslinya ditaruh di sekolah.", masih dengan sabar, mencoba memberikan solusi.
"Saya mau nya yang asli, kalau bapak mau, bapak aja yang bikin replikanya terus ditaruh di sekolah", jawab si anak dengan lantang.
Emosi mulai tampak di wajah kepala sekolah, kerut-kerut dan urat kepala mulai bermunculan.
"Kamu kenapa sih tidak mau memberikan piala itu ke sekolah, berapa sih harga piala itu?", kata kepala sekolah dengan nada meninggi.
Anak itu menjawab dengan polosnya, "Pak, mungkin piala ini harganya tidak seberapa. Tapi bagi saya piala ini bernilai sekali."
Tanpa bisa menyembunyikan amarahnya, si kepala sekolah berkata dengan kerasnya, "Tau apa kamu tentang harga dan nilai, ha?"
"Mungkin bapak bisa membeli sesuatu yang ada harganya. Tapi sesuatu bernilai, seberapa murahnya itu, belum tentu bapak bisa membelinya"
Moral cerita ini, kebanyakan orang melihat sesuatu berdasarkan harganya, bukan pada nilainya. Sebuah sepatu mahal dianggap lebih bernilai daripada sebuah sepatu yang murah. Padahal itu belum tentu. Sepatu robek mungkin lebih bernilai bagi si empunya, karena itulah harta satu-satunya yang akan melindungi kakinya, dibandingkan dengan nilai sebuah sepatu berharga jutaan rupiah, di antara puluhan pasang sepatu koleksi seorang konglomerat.
Harga adalah sesuatu yang terukur dengan rupiah, nilai adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap sesuatu. Sebuah barang yang berharga murah yang didapatkan dengan kerja keras dan kesungguhan hati, akan lebih bernilai dari sebuah benda mahal yang didapatkan tanpa susah payah.
Dalam bisnis, merubah sesuatu yang bernilai rendah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi akan selalu menjadi tantangan yang mengasyikkan. Sesuatu yang bernilai rendah, biasanya bisa didapatkan dengan harga murah. Bila bisa merubahnya menjadi bernilai tinggi, tentu harga jual bisa melambung, dan keuntunganpun bisa berlipat-lipat.
Jadi, ada yang punya ide atau pengalaman merubah sesuatu bernilai rendah menjadi lebih tinggi? Let's share :)